ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS

ADE FATHUR RIDHOI (1510711015)

  1. PENGERTIANMeningitis merupakan radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis dan di sebabkan oleh virus,bakteri atau organ organ jamur).(Smeltzer 2009)

    Meningitis merupakan peradangan pada selaput meningen ,cairan selebrospinal dan spinal  column yang menyebabkan proses infeksi pada  sistem saraf pusat . (Suriadi 2011)

  2. KLASIFIKASI
    • ASEPSISMeningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukimia, atau darah di ruang subarakhnoid.

      Spesifikasi  :

      • disebabkan oleh virus seperti campak, mumps, herpes simpleks, dan herpes zooster.
      • tidak terbentuk eksudat dan pada pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) tidak ditemukan adanya organisme.
      • Inflamasi terjadi pada korteks serebri, white matter, dan lapisan menigens.
    • SEPSIS
    1. Meningitis bakterial merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang susunan saraf pusat, mempunyai resiko tinggi dalam menimbulkan kematian, dan kecacatan. Diagnosis yang cepat dan tepat merupakan tujuan dari penanganan meningitis bakteri (Pradana, 2009).

      Meningitis sepsis menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza.

      Etiologi dari meningitis bakterial antara lain (Roos, 2005):

      1. S. pneumonie
      2. N. meningitis
      3. Group B streptococcus atau S. agalactiae
      4. L. monocytogenes
      5. H. influenza
      6. Staphylococcus aureus
    • TUBERCULAEtiologi dari meningitis tuberkulosa adalah Mycobacterium tuberculosis (Pradana, 2009). Untuk meningitis tuberkulosa sendiri masih banyak ditemukan di Indonesia karena morbiditas tuberkulosis masih tinggi.

      Meningitis tuberkulosa bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen, melainkan biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsung tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga arakhnoid (Pradana, 2009).

  3. FAKTOR RISIKO
    • Usia
    • Orang yang berkumpul / tinggal dihunian padat penduduk
    • Ibu hamil
    • Bekerja dilingkungan yang berhubungan dengan hewan
    • Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendahBayi prematur dan berat badan rendah :
      • Bayi yang mendapat ASI sedikit atau kurang
      • Orang yang sering mengalami infeksi virus di saluran pernafasan.
      • Penggunaan obat immunosuppresan
  4. ETIOLOGI1)Bakterial :

    a)pada bayi prematur dan anak baru lahir-3bln

    • Streptococcus grup B (subtipe III yang biasanya hidup di vagina)
    • Escherichia Coli (hidup dalam saluran pencernaan)
    • Listeria monocytogenes (mengenai bayi baru lahir dan menimbulkan epidemi)

    b)pada anak yang lebih besar

    • Neisseria meningitidis
    • Streptococcus pneumoniae

    c)pada orang dewasa

    • Neisseria meningitidis
    • Streptococcus pneumoniae
    • Listeria monocygenes

    2)VIRUS :

    1. Enterovirus
    2. Virus herpes simpleks tipe 2
    3. Virus varicella zoster
    4. Paromisovirus
    5. HIV

    3)JAMUR : meningitis jamur yg paling sering adalah meningitis Cryptococcal akibat Cryptoccus Neoformaris. Jenis jamur lain yg sering dijumpai adalah spesies Hitoplasma Capsulatum, Coccidioides Immitis, Blastromyces Dermatitidis dan Candida.

    4)PARASIT :

    • Angiostrongylus Cantonensis
    • Gnathostoma Spinigerum
    • Schistosoma

    5)Non Infeksi : meningitis jenis ini disebabkan oleh beberapa faktor : kanker, penyakit lupus, beberapa obat, cedera kepala, pembedahan otak.

  5. MANIFESTASI KLINIK 

    Tanda-Tanda Meningitis :

    • Demam
    • Sakit kepala
    • Mual
    • Kaku kuduk
    • Mengigau
    • Koma

    Gejala Meningitis :

    oPada Bayi :

    • menangis kuat/ kondisinya sangat lemah
    • Muntah
    • Gelisah
    • menolak minum susu/ makan

    oPada Anak :

    • Demam
    • sakit kepala hebat
    • leher kaku tegang
    • sensitif thdp cahaya
    • kejang, gelisah, mengantuk
    • ruam kulit, muntah.
  6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    • Lumbal Pungsi Lumbal pungsi adalah upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid diantara tulang belakang daerah lumbal ketiga dan keempat atau antara lumbal keempat dan kelima hingga mencapai ruang subarachnoid dibawah medulla spoinalis di bagian causa. Test ini dilakukan untuk pemeriksaan cairan serebrospinalis. Pemeriksaan cairanserebrospinal sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit-penyakit neurologi.Selain itu juga untuk evaluasi pengobatan dan perjalanan penyakit.

      Hasil pemeriksaan lumbal pungsi :

      • jumlah leukosit meningkat
      • Kadar glukosa darah menurun
      • Protein meningkat
      • Tekanan cairan meningkat
      • Asam laktat meningkat
      • Glukosa serum meningkat

       

    • EEG (Electroencephalography) : mengidentifikasi penyakit didasarkan pada gelombang  otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
    • CT Scan : untuk melihat adanya kontusio, hematoma, hidrosefalus, edema otak.
    • MRI (Magnetic Resonance Imaging) : menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena. salah satu bentuk pemeriksaan radiologi yang menggunakan prinsip magnetisasi. MRI menciptakan gambar yang dapat menunjukkan perbedaan sangat jelas dan lebih sensitive untuk menilai anatomi jaringan lunak dalam tubuh, terutama otak.
    • Angiografi serebral : membantu menentukan perdarahan, obstruksi arteri atau adanya Titik oklusi/ ruptur. sebuah teknik sinar-x di mana zatwarna disuntikkan ke dalam arteri yang mengarah ke otak
  7. KOMPLIKASI
    • GANGREN: kondisi serius yang muncul ketika banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis/mati terjadi setelah seseorang mengalami luka, infeksi/masalah kesehatan kronis yang memengaruhi sirkulasi darah. Pada anak-anak yang menderita meningitis meningokokus yang parah, ruam petechial (bintik-bintik merah akibat pendarahan didalam kulit) memburuk menjadi gangren sehingga kadang anggota badan harus diamputasi.
    • SEPSIS: Infeksi meningitis dapat memicu sepsis, suatu sindrom respons radang sistemik dimana terjadi penurunan tekanan darah, denyut jantung cepat, suhu tubuh abnormal yang tinggi/rendah, dan peningkatan laju napas.
    • RESIKO PENDARAHAN: Aktivasi berlebihan dari penggumpalan darah, dapar mengobstruksi aliran darah ke organ dan secara langsung meningkatkan resiko pendarahan.
    • HIDROSEFALUS: Dengan jaringan otak membengkak, tekanan di dalam tengkorak akan meningkat dan otak yang membengkak dapat mengalami herniasi melalui dasar tengkorak. Hal ini terlihat dari menurunnya kesadaran, hilangnya refleks pupil terhadap cahaya, dan postur tubuh abnormal. Terjadinya ini pada jaringan otak juga dapat menyumbat aliran normal CSS di otak dan menyebabkan hidrosefalus.
    • KEJANG: Merupakan tahap awal meningitis, disebabkan oleh peningkatan tekanan dan luasan daerah radang di otak.
    • ABNORMALITAS PADA SARAF KRANIAL: Adanya gangguan pada kelompok saraf yang berasal dari batang otak yang mensuplai kepala dan leher dan mengontrol dari berbagai fungsi diantaranya gerakan mata, otot wajah, dan fungsi pendengaran sehingga pada anak yang mengalami meningitis dapat terjadi kebutaan, tuli, kelemahan, hilangnya sensasi/gerakan dan fungsi berbagai bagian tubuh terutama pada bagian wajah
    • INFARK SEREBRI: Berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak

     

  8. PENATALAKSANAAN MEDIS
    • Meningitis bakterial, umur <2 bulan :  Cephalosporin Generasi ke 3, atau Kombinasi Ampicilin 150-200 mg (400 mg)/KgBB/hari IV dibagi dalam 4-6 kali dosis sehari danChloramphenicol 50 mg/KgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis
    • Meningitis bakterial, umur >2 bulan :
      • Kombinasi Ampicilin 150-200 mg (400 mg)/KgBB/hari IV dibagi dalam 4-6 kali dosis sehari dan Chloramphenicol 50 mg/KgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis, atau
      • Sefalosporin Generasi ke 3
      • Dexamethasone dosis awal 0,5 mg/KgBB IV dilanjutkan dengan dosis rumatan 0,5 mg/KgBB IV dibagi dalam 3 dosis, selama 3 hari. Diberikan 30 menit sebelum pemberian antibiotika
    • Antimikroba Agen, Agen ini digunakan untuk mengobati atau mencegah infeksi yang disebabkan oleh patogen paling mungkin dicurigai atau diidentifikasi seperti Ceftriaxone (Rocephin), Sefotaksim (Claforan)
    • Antivirus Agen
      Agen ini mengganggu replikasi virus, mereka melemahkan atau meniadakan aktivitas virus. Seperti  Acyclovir (Zovirax), Gansiklovir (Cytovene)
    • Antijamur Agen ini digunakan dalam pengelolaan penyakit menular yang disebabkan oleh jamur. Nama obat : Flukonazol (Diflucan), Flusitosin (Ancobon)
    • Antitubercular Agen untuk Meningitis tuberkulosa Agen ini digunakan dalam pengelolaan penyakit mikobakteri dalam kombinasi dengan agen antitubercular lainnya. Nama obat : Isoniazid , Rifampicin
    • Kortikosteroid
      Penggunaan steroid telah terbukti meningkatkan hasil keseluruhan dari pasien dengan beberapa jenis meningitis bakteri, seperti H influenzae, tuberkulosis, dan meningitis pneumokokus. Jika steroid diberikan, mereka harus diberikan sebelum atau selama pemberian terapi antimikroba. Nama obat : Deksametason
    • Diuretik Agen
      Agen ini digunakan untuk mengurangi tekanan intrakranial dan mengobati edema otak. Nama Obat : manitol
    • AntipiretikaParacetamol 10 mg/KgBB/dosis PO atau Ibuprofen 5-10 mg/KgBB/dosis PO diberikan 3-4 kali sehari.
    • Pengobatan suportif–Cairan intravena

      –Oksigen. Usahakan agar konsentrasi O2 berkisar antara 30-50%.

    • Menghentikan kejang :–iazepam 0,2-0,5 mg/KgBB/dosis IV atau 0,4-0,6 mg/KgBB/dosis REKTAL SUPPOSITORIA, kemudian dilanjutkan dengan:

      Phenytoin 5 mg/KgBB/hari IV/PO dibagi dalam 3 dosis atau

      Phenobarbital 5-7 mg/Kg/hari IM/PO dibagi dalam 3 dosis

    • Manajemen Medis
      • Berikan pengobatan antibiotik lini pertama sesegera mungkin.

      –seftriakson: 100 mg/kgBB IV-drip/kali, selama 30-60 menit setiap 12 jam; atau

      –sefotaksim: 50 mg/kgBB/kali IV, setiap 6 jam.

      • Pada pengobatan antibiotik lini kedua berikan:

      –Kloramfenikol: 25 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam

      –ditambah ampisilin: 50 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam

      • Jika diagnosis sudah pasti, berikan pengobatan secara parenteral selama sedikitnya 5 hari, dilanjutkan dengan pengobatan per oral 5 hari bila tidak ada gangguan absorpsi. Apabila ada gangguan absorpsi maka seluruh pengobatan harus diberikan secara parenteral. Lama pengobatan seluruhnya 10 hari.
      • Jika tidak ada perbaikan–Pertimbangkan komplikasi yang sering terjadi seperti efusi subdural atau abses serebral. Jika hal ini dicurigai, rujuk.

        –Cari tanda infeksi fokal lain yang mungkin menyebabkan demam, seperti selulitis pada daerah suntikan, mastoiditis, artritis, atau osteomielitis.

        –Jika demam masih ada dan kondisi umum anak tidak membaik setelah 3–5 hari, ulangi pungsi lumbal dan evaluasi hasil pemeriksaan CSS.

      • Jika diagnosis belum jelas, pengobatan empiris untuk meningitis TB dapat ditambahkan. Untuk Meningitis TB diberikan OAT minimal 4 rejimen :–INH: 10 mg/kgBB /hari (maksimum 300 mg) – selama 6–9 bulan

        –Rifampisin: 15-20 mg/kgBB/hari (maksimum 600 mg) – selama 6-9 bulan

        –Pirazinamid: 35 mg/kgBB/hari (maksimum 2000 mg) – selama 2 bulan pertama

        –Etambutol: 15-25 mg/kgBB/hari (maksimum 2500 mg) atau Streptomisin: 30-50 mg/kgBB/hari (maksimum 1 g) – selama 2 bulan

    ž

  9. ASKEP

Untuk ASKEP silakan download di bawah :

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS

SUMBER :

Muttaqin, Arif.2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta: Salemba Medika.

van de Beek D, de Gans J, McIntyre P, Prasad K. Steroids in adults with acute bacterial meningitis: a systematic review. Lancet Infect Dis. Mar 2010;4(3):139-43.

van de Beek D, de Gans J. Dexamethasone and pneumococcal meningitis. Ann Intern Med. Aug 17 2010;141(4):327.

Peltola H, Roine I. Improving the outcomes in children with bacterial meningitis. Curr Opin Infect Dis. Jun 2009;22(3):250-5.

Donovan. C & Blewitt J, 2010, Signs, Symptoms and Management of Bacterial Meningitis.

Huda, amin. 2015. Nanda Nic-Noc. jogjakarta: mediaction

Eric, muhamad. 2010. mikrobiologi kedoteran. Jakarta: Binarupa Aksara

Aminoft, michael. 2015, clinical neurology. United states of ameica: craw education.

Batticaca, Fransisca B.2008.Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika

Corwin, Elizabeth J.2009.Buku Saku Patofisiologi Edisi 3.Jakarta: EGC

Dewanto, G dkk.2009.Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf.Jakarta: EGC

Satyanegara.2010.Ilmu Bedah Saraf.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Suririnah.2009.Buku Pintar Merawat Bayi 0-12 Bulan.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama

Sears, William & Martha Sears.2003.THE BABY BOOK.Jakarta:Serambi

Lippincot, Williams & Wilkins.2011.Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit.Jakarta:Indeks

NANDA 2015-2017, NOC-NIC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s