Pneumothorax

ADE FATHUR RIDHOI 1510711015

More Info: adefathur59@yahoo.com

  1. PENGERTIAN 

    Pneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapatnya udara pada rongga potensial diantara pleura visceral dan pleura parietal.

    Pada keadaan normal rongga pleura di penuhi oleh paru – paru yang mengembang pada saat inspirasi disebabkan karena adanya tegangan permukaaan ( tekanan negatif ) antara kedua permukaan pleura, adanya udara pada rongga potensial di antara pleura visceral dan pleura parietal menyebabkan paru-paru terdesak sesuai dengan jumlah udara yang masuk kedalam rongga pleura tersebut, semakin banyak udara yang masuk kedalam rongga pleura akan menyebabkan paru –paru menjadi kolaps karena terdesak akibat udara yang masuk meningkat tekanan pada intrapleura. (Jurnal Hidropneumotoraks oleh Nova Faradilla, S.Ked, FKUNRI)

  2. KLASIFIKASI

    Pneumotoraks dapat dibagi berdasarkan atas beberapa hal, yaitu :

    1. Berdasarkan kejadian.
    2. Berdasarkan lokalisasi.
    3. Berdasarkan tingkat kolaps jaringan paru.
    4. Berdasarkan jenis fistel
      • Berdasarkan kejadian

      (a) Pneumotoraks spontan primer, Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang sebelumnya tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

      (b) Pneumotoraks spontan sekunder, Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang sebelumnya telah menderita penyakit, mungkin merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru, tuberkulosis paru, asma kistafibrosis dan karsinoma bronkus.

      (c) Pneumotoraks traumatika, Pneumotoraks yang timbul disebabkan robeknya pleura viseralis maupunpleura parietalis sebagai akibat dari trauma.

      • Pada pneumothorax traumatic dapat diklasifikasikan lagi dalam 2 jenis :

      –Pneumothorax traumatic non-iatrogenik, yaitu pneumothorax yang terjadi larena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada dan baritrauma

      –Pneumothorax traumatic iatrogenik, yaitu pneumothorax yang terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Jenis ini masih dibagi menjadi 2 :

      • Iatrogenik aksidental : karena kesalah atau komplikasi dari tindakan tersebut
      • Iatrogenik artifisial : pneumothorax yang sengaja dilakukan dengan cara mengisikan udara ke dalam rongga pleura, tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk pengobatan

      (d) Pneumotoraks artifisialis, Pneumotoraks yang sengaja dibuat dengan memasukkan udara ke dalam rongga pleura, dengan demikian jaringan paru menjadi kolaps sehingga dapat beristirahat.

      (e) Pneumothoraks Catamenial,

      Pneumotorax yang terjadi seiring dengan siklus menstruasi dan dipercaya karena terdapatnya implantasi endometriosis dipleura. Endomtriosis adalah suatu jaringan endometrium yang masih berfungsi yang terdapat di luar cavum uteri. Endometriosis timbul karena adanya jalan penyebaran melalui pembuluh darah atau limfe. Endometriosis dapat menyerang paru dan membentuk kista coklat (endometrioma). Pada saat menstruasi, endometrioma yang berisi darah mengisi rongga pleura viseralis akibat pecahnya endometrioma. Sehingga tekanan intrapleura sama dengan tekanan intraalveolus dan tekanan atmosfer, sehingga mengakibatkan kolaps paru.

      Pneumothorax Catamenial biasanya mengenai hemithorax kanan, karena trejadi implantasi endometriosis di diafragma kanan. Imlantasi tersebut terjadi melalui sirkulasi peritoneal dari pelvis menuju ke diafragma kanan.

      • Berdasarkan Lokalisasi

      (a) Pneumotoraks parietalis

      (b) Pneumotoraks mediastinalis

      (c) Pneumotoraks basalis

      • Berdasarkan tingkat kolapsnya jaringan paru
      1. a) Pneumotoraks totalis, apabila seluruh jaringan paru dari satu hemitoraks mengalami kolaps.
      2. b) Pneumotoraks parsialis, apabila jaringan paru yang kolaps hanya sebagian.
        • Berdasarkan jenis fistel

        (a) Pneumotoraks ventil, Di mana fistelnya berfungsi sebagai ventil sehingga udara dapat masuk ke dalam rongga pleura tetapi tidak dapat ke luar kembali. Akibatnya tekanan udara di dalam rongga pleura makin lama makin tinggi dan dapat mendorong mediastinum ke arah kontra lateral.

        (b) Pneumotoraks terbuka, Di mana fistelnya terbuka sehingga rongga pleura mempunyai hubungan terbuka dengan bronkus atau dengan dunia luar; tekanan di dalam rongga pleura sama dengan tekanan di udara bebas.

        (c) Pneumotoraks tertutup, Di mana fistelnya tertutup udara di dalam rongga pleura, terkurung, dan biasanya akan diresobsi spontan. Pembagian pneumotoraks berdasarkan jenis fistelnya ini sewaktu-waktu dapat berubah. Pneumotoraks tertutup sewaktu-waktu dapat berubah menjadi pneumotoraks terbuka, dan dapat pula berubah menjadi pneumotoraks ventil.

  3. MENGUKUR DERAJAT PNEUMOTHORAKS

    • Derajat kolaps paru pada pneumothorax totalis dapat dinyatakan dalam persen dengan rumus sebagai berikut :
    • Rumus mengukur volumenya :

        (A x B) – (a x b)  ⁄  (A x B) x 100%Pneumoblog

    Ringan  : 15 – 20 atau <25

    Sedang  : 20 – 60 atau 25-50

    Berat  : >60 atau >50

     

  4. MENGHITUNG LUAS PNEUMOTHORAXPneumothorax2
  5. ETIOLOGI

    1) Faktor infeksi atau radang paru.

    Infeksi atau radang paru walaupun minimal akan membentuk jaringan parut pada dinding alveoli yang akan menjadi titik lemah.

    2) Tekanan intra alveolar yang tinggi akibat batuk atau mengejan.

    Dengan pecahnya bleb yang terdapat di bawah pleura viseralis, maka udara akan masuk ke dalam rongga pleura dan terbentuklah fistula bronkopleura. Fistula ini dapat terbuka terus, dapat tertutup, dan dapat berfungsi sebagai ventil

  6. PATOFISIOLOGI

    Pneumotoraks dapat tertutup atau terbuka. Pada pneumotoraks tertutup, udara dapat lolos ke dalam rongga pleura dari tusukan atau robekan pada struktur pernapasan internal seperti bronkus, bronkiolus, atau alveolus. Rusuk yg patah dapat juga menyebabkan pneumotoraks tertutup. Pada pneumotoraks terbuka, udara dapat memasuki rongga pleura secara langsung melalui lubang di dinding dada atau diafragma.

    Pneumotoraks dapat diklasifikasikan sebagai spontan atau traumatik, dan keduanya dapat menyebabkan tekanan pneumotoraks. Pneumotoraks spontan dapat bersifat idiopatik ketika tidak ada penyebab yang ditemukan (primer) atau sebagai akibat dari penyakit paru lainnya seperti PPOK, TB, atau kanker (sekunder). Lepuh atau bula dapat ruptur walaupun dinding dada tetap utuh, sehingga menyebabkan paru kolaps.

    Pneumotoraks dapat tertutup atau terbuka. Pada pneumotoraks tertutup, udara dapat lolos ke dalam rongga pleura dari tusukan atau robekan pada struktur pernapasan internal seperti bronkus, bronkiolus, atau alveolus. Rusuk yg patah dapat juga menyebabkan pneumotoraks tertutup. Pada pneumotoraks terbuka, udara dapat memasuki rongga pleura secara langsung melalui lubang di dinding dada atau diafragma.

    Pneumotoraks dapat diklasifikasikan sebagai spontan atau traumatik, dan keduanya dapat menyebabkan tekanan pneumotoraks. Pneumotoraks spontan dapat bersifat idiopatik ketika tidak ada penyebab yang ditemukan (primer) atau sebagai akibat dari penyakit paru lainnya seperti PPOK, TB, atau kanker (sekunder). Lepuh atau bula dapat ruptur walaupun dinding dada tetap utuh, sehingga menyebabkan paru kolaps.

  7. MANIFESTASI KLINIK

    1.Sesak napas, didapatkan pada hampir 80-100% pasien, dirasakan mendadak dan dapat bertambah semakin berat.

    2.Nyeri dada, didapatkan pada 75-90% pasien. Nyeri dirasakan tajam pada sisi yang sakit, terasa berat, tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerak pernapasan.

    3.Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami pneumothoraks

    4.Denyut jantung dan frekuensi nafas meningkat.

    5.Sianosis

    6.Perkusi hipersonor diatas pneumothoraks

    7.Perkusi meredup diatas paru yg kolaps

    8.Suara napas berkurang atau tidak ada pada sisi yang terkena

    9.Fremitus vokal dan raba berkurang

    10.Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien.

    11.Tidak menunjukan gejala (silent) yang terdapat pada 5-10% pasien, biasanya pada jenis pneumotoraks spontan primer.

  8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    • Foto Rontgen
    • Pneumoblog 4

    Gambaran radiologis yang tampak pada foto rontgen kasus pneumotoraks antara lain:

    üBagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi membentuk lobuler sesuai dengan lobus paru.

    üParu yang kolaps hanya akan tampak seperti massa radio opaque yang berada di daerah hilus. Yang menunjukkan kolaps paru yang luas.

    üJantung dan trakea mungkin terdorong di sisi yang sehat, spatium intercostalis melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah. Apabila ada pendorongan jantung dan trakea ke arah yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intrapleura yang tinggi.

    Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan sebagai berikut.

    a.Penumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi jantung, mulai dari basis sampai ke apeks. Hal ini terjadi apabila pecahnya fistelmengarah mendekati hilus, sehingga udara yang dihasilkan akan terjebak di mediastinum.

    b.Emfisema subkutan, dapat diketahui apabila ada rongga hitam dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari penumomediastinum. Udara yang tadinya terjebak di mediastinum lambat laun akan bergerak menuju daerah yang lebih tinggi, yaitu daerah leher.

    c.Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka akan tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma.

    • Analisa Gas Darah

    Analisa gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemia.

    • CT-scan Thorax

    Pneumoblog 3

    CT-scan thorax lebih spesifik untuk membedakan anatara emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstra pulmoner dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan, primer dan sekunder.

  9. KOMPLIKASI
    1. Infeksi sekunder sehingga dapat menimbulkan pleuritis, empiema , hidropneumotoraks.
    2. Gangguan hemodinamika.

    Pada pneumotoraks yang hebat, seluruh mediastinum dan jantung dapat tergeser ke arah yang sehat dan mengakibatkan penurunan kardiak “output”, sehingga dengan demikian dapat menimbulkan syok kardiogenik.

    1. Emfisema; dapat berupa emfisema kutis atau emfisema mediastinalis

 

10. PENATALAKSANAAN MEDIS

Tujuan utama dari penatalaksanaan pneumotoraks adalah untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi. Pada prinsipnya penatalaksanaan pneumotoraks adalah sebagai berikut:

  • Observasi dan Pemberian O2

Apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan rongga pleura menutup, maka udara yang berada dalam rongga pleura tersebut akan diresorbsi. Laju resorbsi tersebut akan meningkat apabila diberikan tambahan O2. Observasi dilakukan beberapa hari dengan foto toraks serial tiap 12-24jam pertama selama 2 hari. Tindakan ini terutama ditujukkan untuk pneumotoraks tertutup dan terbuka.

  • Tindakan Dekompresi

Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus pneumotoraks yang luasnya .15%. Bertujuan untuk mengurangi tekanan intrapleura dengan membuat hubungan antara rongga pleura dengan udara luar dengan cara:

a.Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga plera dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar melalui jarum tersebut.

b.Membuat hubungan dengan rongga udara luar melalui kontra ventil:

üDapat memakai infus set

Jarum ditusukkan ke dinding dada sampai ke rongga pleura, kemudian infus set yang telah dipotong pada pangkal saringan tetesan dimasukkkan ke botol yang berisi air. Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung infus set yang berada di dalam botol.

üJarum abbocath

Jarum ditusukkan pada posisi yang tetap di dinding toraks sampai menembus ke rongga pleura, jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal. Kanula kemudian dihubungkan dengan pipa plastik infus set. Pipa infus ini kemudian dimasukkan ke dalam botol berisi air. Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar dari ujung infus set yang berada di dalam botol.

  • Pipa water sealed drainage (WSD)

  Pipa khusus (toraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantaraan troakar atau dengan bantuan klem penjepit. Pemasukkan troakan akan dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit di sela iga ke-4 pada linea midaksilaris atau pada linea aksilaris posterior. Dapat pula melalui sela iga ke-2 di garis midklavikula.

  Setelah troakar masuk, maka toraks kateter segera dimasukkan ke rongga pleura dan kemudian troakar dicabut, sehingga hanya kateter toraks yang tertiggal di rongga pleura. Selanjutnya ujung kateter toraks yang ada di dada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya. Posisi ujung pipa kaca yag berada di ujung botol sebaiknya berada di 2 cm di  bawah permukaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.

  Penghisapan dilakukan terus menerus apabila tekanan intrapleura tetap positif. Penghisapan ini dilakukan degan memberikan tekanan negatif sebesar 10-20cm H2O dengan tujuan agar paru cepat mengembang. Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekanan intrapleura sudah negatif kembali, maka sebelum dicabut dapat dilakukan uji coba terlebih dahulu dengan cara pipa dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila tekanan di rongga pleura kembali menjadi positif maka pipa belum bisa dicabut. Pencabutan WSD dilakukan pada saat pasien dalam keadaan ekspirasi maksimal.

  • Tindakan Bedah

– Torakoskopi

Yaitu suatu tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga toraks dengan alat bantu torakoskop.

– Torakotomi

Torakotomi merupakan prosedur pembukaan rongga torak untuk memperbaiki kebocoran udara yang persisten denga melakukan reseksi bula atau bleb yang terdapat pada pleura viseral. Torakotomi merupakan pilihan tatalaksana dengan tingkat rekurensi paling rendah. Sambungan dibentuk antara kedua permukaan pleura yang berlawanan. Diharapkan dengan torakotomi dapat mencegah kekambuhan.

  • Non medikamentosa

üApabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan ditujukan terhadap penyebabnya. Misalnya: terhadap proses TB paru diberi OAT, terhadap bronkhitis dengan obstruksi saluran napas diberi antibiotik dan bronkodilator.

üIstirahat total untuk menghindari kerja paru yang berat.

üPemberian antibiotik profilaksis setelah tindakan bedah dapat dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi komplikasi, seperti emfisema.

  • Rehabilitasi

üPenderita yang telah sembuh dari penumotoraks harus dilakukan pengobatan secara tepat untuk penyakit dasarnya.

üUntuk sementara waktu, penderita dilarang mengejan, batuk atau bersin terlalu keras.

üBila mengalami kesulitan defekasi karena pemberian antitusif, berilah laksan ringan.

üKontrol penderita pada waktu tertentu, terutama kalau ada keluhan batuk dan sesak napas.

ASKEP silakan download di bawah ini :

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN PNEUMOTHORAK

 

SUMBER :

  • Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3.
  • Jurnal Hidropneumotoraks oleh Nova Faradilla, S.Ked, FKUNRI.
  • Price, Sylvia A. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Pross Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta: EGC.
  • NANDA 2015, NOC – NIC

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s